Kategori

Kamis, 10 November 2016

Resensi Novel "Raksasa Dari Jogja" oleh Nadhifah

RESENSI NOVEL
“RAKSASA DARI JOGJA”
DWITASARI


I.            Identitas Novel  :
1.      Judul                          : Raksasa Dari Jogja
2.      Pengarang                : Dwitasari
3.      Tahun Terbit            : Oktober, 2012
4.      Penerbit                    : PlotPoint (PT Bentang Pusaka)
5.      Tebal Halaman        : 271 Halaman
6.      Kategori                    : Novel Remaja (fiksi)

II.            Sinopsis ( ringkasan cerita ) :
“Cinta tak pernah sederhana bagi seseorang yang telah disakiti, dilukai, dan dikhianati berkali-kali.”
Indah rasanya bila di suatu tempat pada akhirnya kita menemukan sesosok belahan jiwa. Inilah yang di ceritakan oleh Dwitasari kepada pembaca Raksasa dari Jogja. Buku ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Bianca Dominique. Ia digambarkan sebagai sosok pencari makna cinta. Ketika pertengkaran demi pertengkaran terjadi di antara mama dan papa Bianca. Pertengkaran, yang menimbulkan bantingan piring dan barang pecah belah lainnya. Bebunyian itu begitu sering terdengar oleh telinga Bianca, wanita yang mencoba bertahan meskipun terluka perlahan. Ia masih bertahan, bahkan ketika wajah ibunya lebam oleh pukulan ayahnya.


Bianca masih bertahan, bahkan saat pelipis ibunya mengeluarkan darah segar karena tinju dari ayahnya. Rasanya menyakitkan saat kau harus tetap beranggapan bahwa keluargamu baik-baik saja, namun yang sebenarnya terjadi adalah Bianca menyembunyikan perasaannya. Akibat pertengkaran itu ia jadi tidak percaya tentang cinta.
Namun dalam ketidakpercayaannya, ia diam - diam mencari jawabannya. Dalam tangis dan luka hatinya ia berjuang. Ia pernah sekali jatuh cinta kepada cowok bernama Joshua teman semasa SMA nya dulu, sampai sekarang pun ia masih sangat menyukainya. Namun takdir berkata lain walaupun Bianca sangat menyukai Joshua tetapi cowok itu direbut oleh sahabat terbaiknya, Letisha. Letisha menjalin hubungan kasih bersama Joshua. Ya, Joshua, pria yang beberapa tahun terakhir terselip dalam hafalan doa Bianca. Joshua, cinta pertamanya yang ia biarkan kandas di tengah jalan, karena sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan terjadi berkali-kali. Dia tersakiti oleh perlakuan ayahnya terhadap ibunya, ia juga tersakiti oleh perlakuan sahabatnya sendiri. Pernikahan katanya terjadi karena cinta, persahabatan terjadi juga karena kasih dan cinta. Tapi, pernikahan yang harusnya sakral, persahabatan yang harusnya kekal; malah menjadi sebab Bianca benar-benar terluka. Cinta. Cinta. CINTA! Dalam pengkhianatan berkali-kali, Bianca berfikir pantaskah ia terus mempercayai cinta?
Ia mencoba meraba-raba hatinya sendiri, merangkak perlahan, berjalan dari keterpurukannya selama ini. Hingga akhirnya Bianca memutuskan kuliah di Jogjakarta, meninggalkan Letisha dan Joshua dan meninggalkan mama dan papanya. Ada rasa sedih yang menguat di hati Bianca karena meninggalkan mamamnya sendiri, ia takut mamanya akan di pukul oleh papanya lagi. Namun akhirnya ia berangkat ke Jogjakarta setelah diyakinkan oleh mamanya bahwa dirinya akan baik-baik saja di Jakarta.
Daerah istimewa yang terkenal menyimpan kenangan manis bagi banyak orang. Tempat yang selalu membawa seseorang kembali, selalu kembali, tak lupa untuk kembali. Di sana Bianca tinggal bersama sepupunya bernama Kevin dan Bude Sumiyati ibu dari Kevin , beliau sangat baik hati dan sangat menyayangi Bianca seperti anaknya sendiri, ia sangat senang jika Bianca akan tinggal di Jogjakarta bersamanya dan Kevin. Bianca kuliah di Universitas Wiyata Mandala. Di Jogjakarta juga ia bertemu dengan Gabriel. Seorang pria berpostur tinggi besar, yang mengindap penyakit gigantisme. Awalnya ia tidak tertarik pada pria itu karena postur tubuhnya yang aneh dan tidak sepadan dengan tinggi badanya yang kecil.


 Namun selalu saja ada peristiwa yang terjadi karena ketidaksengajaan dan membuatnya bertemu dengannya lagi.
Mulai dari satu universitas karena Gabriel ada seniornya lalu bertemu di halte busway saat Gabriel berusaha melindungi Bianca terjatuh saat terjadi penumpukan penumpang dan saat Bianca bertemu dengannya di Pasar Beringharjo , di pasar itu Bianca mulai menyadari ada sesuatu yang aneh dalam hatinya saat ia mulai merasa ingin memperhatikannya dan selalu menatap wajahnya yang dirasa Bianca cukup manis itu. Namun Bianca tak percaya cinta, sungguh ia tak lagi punya alasan untuk percaya cinta. Tapi, Gabriel membuka mata Bianca dengan cara yang berbeda. Bianca terdiam, haruskah ia menerima kehadiran Gabriel sebagai “malaikat” pembawa kabar baik dalam hidupnya? Apakah Gabriel adalah “malaikat” yang ditakdirkan Tuhan untuk menarik Bianca dari goa kegelapan menuju cahaya matahari?
Hari terus berlalu semakin lama ia semakin dekat dengan cowok yang bernama Gabriel, ia percaya bahwa Gabriel akan mengubah hidupnya menjadi lebih berwarna. Awalnya Kevin sepupu Bianca tidak setuju Bianca dengan Gabriel namun dengan seiring waktu Kevin percaya bahwa Gabriel memang malaikat bagi Bianca yang mampu membuatnya tersenyum kembali dari semua masalah yang dihadapinya.  Pertemuan yang selalu terjadi secara tidak sengaja, secara perlahan dan harus melewati banyak konflik itu akhirnya membuat Gabriel mempercayakan Bianca sebagai tulang rusuk yang sengaja diciptakan Tuhan untuknya. Bianca menemukan Gabriel, begitu pun Gabriel menemukan Bianca.
Dua manusia bersatu untuk menyimpan cinta. Seorang aku dan seorang kamu telah menjadi kita. Meredam egoisme, menyatukan idealisme. Melupakan perbedaan, mengakhiri beban. (hlm.268)
Dan pada akhirnya mama dan papa Bianca bercerai dari semua masalah dan beban yang diterima oleh mama Bianca membuatnya lelah dan mengakhiri semuanya. Letisha pun meminta maaf pada Bianca karena telah merebut Joshua dan ia menyesal , Bianca pun telah memaafkannya dan membuat letisha dan Joshua kembali menjalin kasih dengan segala keikhlasan hatinya. Bianca pun hidup bahagia bersama mama , Kevin , Gabriel, dan Bude Sumiyati di kota kesayangannya Jogjakarta.

III.            Unsur intrinsik novel :
a)      Tema : Antara Cinta, Kasih Sayang dan Persahabatan



b)       Tokoh dan Penokohan :
1.       Bianca Dominique : wanita yang kuat dan cerdas, penyayang, rela berkorban demi sahabatnya sendiri, pantang menyerah , polos , lugu , baik hati dan pemaaf
2.       Mama Bianca : baik hati, tidak tegaan, tulus hatinya , sangat penyayang, lemah terhadap kekerasan , lugu , bekerja keras demi keutuhan keluarganya meski pada akhirnya harus bercerai dengan suaminya demi Bianca , sangat bijaksana dalam menghadapi dan mengambil keputusan , tidak pendendam meskipun telah disakiti oleh papa Bianca berkali-kali
3.       Kevin : sangat penyayang , tulus hatinya , rela berkorban , terlalu khawatir terhadap adik sepupunya Bianca , sedikit tertutup , kakak yang baik dan perhatian, suka berburuk sangka tapi sebenarnya hatinya baik
4.       Bude sumiyati : baik hati ,penyayang, pintar cerdas, ramah dan sopan
5.       Gabriel : baik hati , rela berkorban , suka menolong terbukti saat ia menolong seorang anak panti asuhan yang ia dirikan akan dijual oleh orang tua angkatnya sendiri , tidak pendendam dan pemarah , pemaaf , tulus
6.       Papa Bianca : keras kepala , sangat kasar terhadap istrinya , tidak bijaksana , tidak jujur , tidak setia , mudah marah
7.       Joshua : teman yang baik bagi Bianca, tidak peka terhadap perasaan Bianca
8.       Letisha : sahabat yang baik walaupun pernah menyakiti hati Bianca , suka berterus terang, apa adanya , mau mengakui kesalahan pada Bianca
IV.            Alur :
Alur campuran ( maju dan mundur ) :
Alur maju: ketika prolog sampai tengah cerita alurnya maju karena menyeritakan awal dari kisah Bianca Dominique dan keluarganya dan hal hal yang membuat Bianca tidak percaya cinta dan memutuskan untuk kuliah di Jogjakarta
Alur mundur :  ketika di novel diceritakan bahwa Bianca pernah menyukai seorang cowok bernama Joshua ketika SMA dulu serta cerita saat Bianca mengingat peristiwa bahagia sebelum mama dan papanya selalu bertengkar hebat dan akhirnya bercerai.




V.            Setting ( latar ) :
1.       Latar tempat : di rumah Bianca ( Jakarta), di Universitas Wiyata Mandala, di rumah Bude Sumiyati, di rumah sakit ketika mama Bianca masuk rumah sakit, di lereng gunung merapi ketika Bianca sedang kemah bersama Gabriel, di angkringan Jogjakarta
2.       Latar waktu : pagi hari, siang hari, malam hari
3.       Latar suasana : mengharukan, menyedihkan, menyenangkan, menegangkan, menyeramkan, mengkhawatirkan
VI.            Gaya bahasa :
Bahasa  yang digunakan secara keseluruhan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik namun ada satu dua kata yang menggunakan bahasa anak muda seperti lo gue dan bahasa daerah bahasa jawa seperti neng endi , piye? Dll
VII.            Sudut pandang :
Secara keseluruhan novel ini menggunakan sudut pandang ke-Aku-an karena ceritanya banyak menggunakan kata aku dan Bianca sendiri adalah tokoh utama dalam novel tersebut. Tokoh utama sebagai pelaku utama.
7.      Amanat :
·         Jangan kasar atau menyakiti wanita karena jika menyakiti wanita apalagi wanita itu tidak bersalah sama saja kamu menyakiti hati ibumu sendiri
·         Selalu patuh dan taat kepada kedua orang tua
·         Mudah memaafkan kesalahan orang lain karena memaafkan orang lain adalah hal yang sangat mulia daripada pendendam
·         Selalu bertanggung jawab dan jujur atas kesalahan diri masing-masing
·         Jangan bertindak gegabah atau berprasangka buruk terhadap orang lain
·         Selalu menolong orang yang sedang kesusahan atau tertimpa musibah
·         Jangan mudah menyerah dan berputus asa, tetapi yakin dan tetap optimis
·         Tidak mudah melupakan hasil karya daerah sendiri
·         Tidak bermuka dua atau menusuk teman dari belakang


8.      Nilai – nilai yang terkandung :
Nilai moral :  tidak bertindak kasar pada wanita, tidak berburuk sangka pada orang lain, jangan bersikap egois, senang menolong, bertindak jujur dan bertanggung jawab, jangan suka berbohong
Nilai sosial : senang membantu orang yang sedang tertimpa musibah atau kesusahan, bersikap murah hati dan dermawan pada orang yg tidak mampu atau anak yatim

Nilai budaya : patuh terhadap kedua orang tua, sopan kepada orang yang lebih tua, menghormati orang lain, selalu membanggakan hasil karya daerah sendiri , bersikap bijaksana terhadap masalah yang sedang di hadapi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar